Hidup adalah Perbuatan ataukah Hidup adalah Perubahan

BOJONEGORO, Jawa Timur, boleh dikatakan merupakan kota kecil. Jumlah masyarakat miskin masih banyak. Walaupun mendapat sebutan Kota Minyak, namun yang melarat masih sak abreg-abreg. Siapapun yang jadi presiden, mereka tetap hidup menjadi kere. Di dekat rumah saya ada pangkalan becak. Jumlahnya sekitar sepuluh pengemudi becak. Ada dua orang langganan saya, yaitu Pak Asmuji dan Pak Bimbim. Ketika saya tanya soal motivasi hidupnya, Pak Asmuji mengatakan bahwa hidup adalah perubahan. Sedangkan Pak Bimbim menjawab hidup adalah perbuatan. Mirip motto yang dikumandangkan Soetrisno Bachir yang beberapa waktu lalu ditayangkan di televisi. Penghasilan mereka berdua rata-rata Rp 20.000 per hari. Setelah dikurangi biaya makan siang, kopi dan rokok satu dua batang, maka sisanya tinggal Rp 14.000. Jumlah inilah yang disetor ke istri masing-masing. Sudah tiga tahun mereka menarik becak, namun hidupnya tidak berubah. Tahun ketiga, Pak Asmuji mulai menjabarkan motivasi hidup adalah perubahan. Tiap hari dia menabung Rp 1.000, sedangkan yang disetor ke istrinya Rp 13.000 per hari. Ini angka rata-rata. Setahun kemudian, atau 360 hari kemudian, Pak Asmuji memiliki uang tabungan Rp 360.000. Untuk apa? Ternyata dia mengambil kursus mengemudi mobil. Selesai mengikuti kursus, dia mendapatkan SIM. Dengan modal SIM itu dia melamar sebagai sopir angkot dan diterima. Kesempatan itu digunakan untuk menguasai cara mengemudikan angkot. Hari demi hari dia jalani secara hati-hati. Profesinya sebagai tukang becak sudah ditinggalkan. Sebagai sopir angkotpun pendapatannya meningkat. Tiap hari dia menabung Rp 5.000. Dalam setahun terkumpul Rp 1.800.000. Uang itu digunakan untuk kursus mobil untuk mendapatkan SIM untuk mengemudi bus dan untuk biaya kursus montir mobil. Lantas? Setelah mendapat SIM, dia pergi ke Semarang melamar sebagai sopir bus dan diterima. Tiap hari dia menabung Rp 10.000. Untuk apa? Dia menyempatkan kursus bahasa Inggeris. Setahun kemudian dia pindah ke Jakarta. Dia melamar sebagai sopir pribadi di kedutaan Amerika. Dia menabung Rp 25.000 untuk mendapatkan SIM internasional dan kursus bahasa Arab. Setahun kemudian dia melamar sebagai sopir taksi di Saudi Arabia dan diterima. Lima tahun kemudian dia kembali ke Jakarta. Membeli rumah mewah dan sebuah ruko untuk membuka bengkel mobil. Istri dan anak-anaknya diboyong ke Jakarta. Pak Asmuji yang dulu nggenjot becak, sekarang telah hidup enak dan memiliki sebuah rumah mewah dan bengkel mobil yang omsetnya ratusan juta rupiah tiap bulan. Lokasinya di Kompleks Perumahan Cibubur Country, Timur Jakarta. Sementara itu, Pak Bimbim yang punya motivasi hidup adalah perbuatan, sampai hari ini masih tetap sebagai pengemudi becak. MOTIVASI: Berapapun penghasilan Anda, Anda harus bisa menabung (berapapun besar tabaungan Anda). _____________________________________________________ HARIYANTOI IMADHA, E-mail:indodata@yahoo.com

2 Responses to Hidup adalah Perbuatan ataukah Hidup adalah Perubahan

  1. saya sangat setuju klo hidup adalah perubahan.yg asalnya tidak mengerti jadi ngerti,dari miskin jadi kaya,dari kebodohan jadi punya kepintaran klo perbuatan tanpa perubahan dalam hidup sama juga bohong.klo iklan saya sih “perbuatan untuk perubahan”

  2. youlike says:

    Keren…

    Bagus bgt motivasinya…

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: