Memprediksi Langkah Barack Hussein Obama lewat Pidato Pertamanya

Change, We Are Waiting for

obama
Sejak awal upayanya menuju kursi presiden AS, Barack Hussein Obama terus menjanjikan perubahan. Slogan kampanyenya ketika bersaing dengan Hillary Rodham Clinton dalam konvensi Partai Demokrat adalah Change, We Can Believe In. Ketika dia sudah terpilih sebagai capres Demokrat dan bersaing melawan John McCain dari Republik, Obama sedikit menggeser slogannya menjadi Change, We Need.

Dan sejak dia resmi dilantik sebagai presiden AS pada 20 Januari lalu, giliran rakyat AS -dan dunia internasional- menunggu perubahan yang dijanjikan Obama. Rakyat AS -serta dunia internasional- layak menyeru kepada Obama, Mr Obama, Change, We Are Waiting for.

Mencermati pidato pertamanya usai pelantikan 20 Januari lalu, bisa jadi dunia internasional, terutama yang selama ini dicap sebagai musuh AS, kecewa. Sebab, perubahan yang dijanjikan, tampaknya, lebih banyak dilakukan untuk kebijakan dalam negerinya. Sementara untuk kebijakan luar negeri, tidak dijanjikan akan ada perubahan yang signifikan.

AS -yang sekarang dipimpin sosok dengan latar belakang multikultural- tetap tampak sebagai sosok yang arogan dan merasa berhak mengendalikan dunia. Lewat ungkapan seperti We are the keepers of this legacy (Kita adalah penjaga legalitas), Obama seperti ingin menegaskan bahwa AS adalah ”polisi dunia”. Karena itu, AS berhak menghukum negara atau bangsa lain di dunia ini yang dinilai bersalah.

Sikap tersebut ditegaskan lewat ungkapan bahwa We will not apologize for our way of life (Kita tidak akan meminta maaf atas jalan hidup kita). Karena ungkapan tersebut berada dalam paragraf yang membahas tentang kebijakan AS di Iraq dan Afghanistan, Obama sepertinya ingin menegaskan bahwa yang dilakukan negeri di AS dan Iraq bukanlah suatu kesalahan. Karena itu, dia tidak merasa perlu untuk meminta maaf.

Yang patut dicermati dalam perjalanan Obama memimpin AS, apakah sikapnya sebagai ”polisi dunia” masih tetap menerapkan standar ganda? Dalam paragraf tersebut, dia mengecam pelaku terorisme dan mereka yang membantai warga sipil yang tidak bersalah.

Sementara, dia hanya bungkam menyaksikan pasukan Israel membantai ratusan warga sipil Palestina, termasuk anak-anak dan perempuan, yang berlangsung dalam waktu hanya beberapa hari sebelum dirinya dilantik. Padahal, dia langsung memberi komentar atas aksi terorisme dan penyanderaan di Mumbay, India, beberapa bulan sebelumnya.

Terlalu Percaya Diri

Arogansi dan kepercayaan diri yang tinggi serta cenderung overconfidence juga tersirat dalam isi pidatonya terkait dengan kondisi perekonomian dalam negeri. Obama tetap pede mengklaim bahwa negerinya masih tetap sekuat dulu. ”We remain the most prosperous, powerful nation on the earth (kita masih menjadi bangsa yang paling makmur, paling kuat di bumi ini),” katanya.

Padahal, dunia tahu bagaimana kondisi AS saat ini. Obama mengungkapkan bahwa para pekerja AS tetap seproduktif dulu. Padahal, serbuan tekstil Tiongkok telah membuat ratusan pabrik di AS tutup dan membuat jutaan pekerja menganggur.

Obama tetap yakin produk barang dan jasanya masih banyak dibutuhkan. Sementara banyak pelaku bisnis internasional yang mulai berancang-ancang untuk mengalihkan sarana transaksi dari USD ke euro.

Sedikit perubahan yang mungkin bisa diharapkan adalah ”janji”-nya bahwa dia tidak akan lebih banyak melakukan kerusakan. Itu tersirat lewat ungkapannya bahwa seorang pemimpin akan dinilai rakyatnya dari apa yang dibangunnya, bukan dari apa yang dihancurkannya. ”…Your people will judge you on what you can build, not what you destroy (rakyat Anda akan menilai Anda berdasar apa yang Anda bangun, bukan apa yang Anda hancurkan),” ungkapnya.

Ungkapan itu sebenarnya lebih ditujukan pada para pemimpin dunia Islam. Sebab, ungkapan tersebut berada di bagian akhir paragraf yang diawali dengan ungkapan ”To the muslim world…”. Lewat paragraf tersebut, Obama menjanjikan hubungan yang lebih dialogis dengan dunia Islam -yang selama ini dikesankan sebagai musuh AS. ”…We seek a new way forward, based on mutual interest and mutual respect (kita perlu jalan (berdialog) dengan landasan saling menghormati dan saling membutuhkan),” katanya.

Paragraf tersebut disambung dengan paragraf yang membahas hubungan AS dengan negara-negara kaya lainnya serta negara-negara miskin. Dia menjanjikan bantuan yang lebih besar untuk negara miskin dan di sisi lain mengajak negara-negara kaya untuk lebih arif.

Menurut dia, negara-negara kaya sudah tidak selayaknya lagi berusaha menyejahterakan negerinya dengan menyebabkan kesengsaraan di wilayah di luar batas negaranya. Dia juga mengingatkan bahwa AS dan negara-negara kaya tidak bisa lagi seenaknya mengisap kekayaan alam bumi tanpa mempertimbangkan dampak buruknya. ”For the world has changed, and we must change with it (karena dunia sudah berubah dan kita harus ikut berubah),” ujarnya.

Di bagian ini, AS di bawah kendali Obama, tampaknya, akan lebih bersahabat dengan negara-negara lain. Itu dipertegas dengan pernyataannya bahwa ”America is a friend of each nation… (Amerika adalah sahabat setiap bangsa…).”

Namun, tetap dengan prasyarat bahwa bangsa yang dipilih menjadi sahabatnya adalah bangsa yang mendambakan masa depan penuh perdamaian. Janji tersebut ditutup dengan arogansi khas AS, ”We are ready to lead once more (Kami (AS) siap untuk memimpin sekali lagi).” Obama seperti ingin mengatakan bahwa persahabatan semua bangsa dan perdamaian itu bakal terwujud di bawah kepemimpinan AS.

Lebih dari semua itu, pidato Obama tersebut -layaknya bahasa lisan- sangat interpretatif. Masing-masing pihak bisa memiliki interpretasi yang berbeda dan mungkin bertolak belakang.

Lagi pula, itu sekadar pidato yang sangat mungkin bersifat agitatif. Yang penting adalah implementasi yang terihat pada kebijakan serta langkahnya memimpin AS selama empat tahun ke depan.

Sebagai presiden pertama dari kalangan kulit berwarna yang memimpin negeri paling berpengaruh di dunia, yang dilakukan Obama pantas ditunggu. Karena itu, tidak salah jika kita menyerukan ”Mr Obama, Change, We Are Waiting for.”

* Rukin firda, wartawan Jawa Pos, alumnus Sastra Inggris Unesa (e-mail: rukin@jawapos.co.id)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s