Kelemahan 3 Pasangan Capres-Cawapres

May 17, 2009

3770565562-kelemahan-3-pasangan-capres-cawapresRakyat Indonesia akan dihadapkan pada tiga pilihan pasangan dalam pemilihan presiden mendatang. Pengamat politik Andrinof Chaniago menjelaskan kelemahan-kelemahan pasangan tersebut.

Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto memang memiliki pemilih yang loyal. Namun isu ekonomi kerakyatan yang mereka embang justru dapat menjadi bumerang bagi mereka sendiri.

“Itu hanya untuk kelas atau market tertentu, contohnya hanya untuk petani dan nelayan,” jelas Andrinof saat berbincang dengan detikcom, Sabtu (16/5/2009).

Andrinof menilai, pasangan itu memang akan dapat meraup suara yang banyak. Namun perolehan suara tersebut akan sulit ditingkatkan lagi.

Bagaimana dengan SBY Berbudi? Pasangan ini dinilai sudah sangat populer. Terlebih lagi dengan figur SBY.

Namun Andrinof justru menyentil posisi Boediono. Gubernur BI ini akan menjadi titik terlemah. Kepribadian Boediono yang santun memang sudah teruji.

“Tapi kita juga harus melihat masalah kemampuan saat menghadapi masalah. Boediono kurang dalam hal ini,” ujar Andrinof.

Sedangkan untuk pasangan terakhir, meski unggul dalam hal kecepatan di diri JK dan punya penjaga ketertiban keamanan pada Wiranto, Andrinof justru menilai pasangan ini tidak terkonsep.

“Kelemahan JK-Wiranto adalah tidak terencana, tidak terkonsep, terlalu pragmatis dan lebih mementingkan instant,” pungkasnya.

——————————————————————–
sumber:http://id.news.yahoo.com/dtik/20090517/tpl-kelemahan-3-pasangan-capres-cawapres-b28636a.html


Amien Rais Kecewa SBY Tunjuk Boediono

May 14, 2009

4025211332-amien-rais-kecewa-sby-tunjuk-boedionoLiputan6.com, Jakarta: Ketua Majelis Pertimbangan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais kecewa dengan rencana penunjukan Gubernur Bank Indonesia Boediono sebagai calon wakil presiden pendamping Susilo Bambang Yudhoyono. Pernyataan itu disampaikan Amien usai menggelar pertemuan dengan pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PAN DKI Jakarta, Rabu (13/5).

Menurut Amien, penunjukan Boediono, sosok dari luar partai politik, bisa membahayakan posisi pemerintahan SBY di Parlemen. Amien memprediksi gelombang penolakan terhadap Boediono akan terus bermunculan dalam beberapa hari ke depan.

Meski begitu, PAN masih akan menunggu pengumuman secara resmi penunjukan Boediono sebagai cawapres. PAN berharap SBY mengubah rencananya. Namun jika SBY tetap memilih Boediono, PAN bisa menempuh opsi keluar dari koalisi bersama Demokrat. Rencananya SBY mengumumkan nama cawapres pendampingnya pada 15 Mei nanti [baca: Hampir Pasti SBY Pilih Boediono].

Menyikapi rencana penujukan Boediono, para pimpinan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tadi malam juga menggelar rapat internal di Jakarta. Kendati nama Boediono belum diumumkan secara resmi, PKS menilai pilihan SBY tak sesuai dengan masukan partai yang menghendaki kombinasi capres-cawapres dari kalangan nasionalis-religius.

Presiden PKS Tifatul Sembiring kembali menyayangkan buruknya komunikasi politik Demokrat terkait rencana penunjukan Boediono. Tifatul mengaku hanya menerima pesan melalui pesan singkat (SMS) dari Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat yang membenarkan pilihannya kepada Boediono. Meski kecewa, PKS belum menentukan sikap tetap tidaknya berkoalisi bersama Demokrat.

Berbeda dengan PKS dan PAN. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) justru mendukung pilihan SBY menunjuk Boediono sebagai cawapres pada pilpres 2009. Keputusan mendukung duet SBY-Boediono diambil PKB setelah disetujui 23 DPW dalam rapat konsultasi hari ini.

PKB menilai Boediono dianggap memenuhi kriteria sesuai yang diinginkan SBY. Terlebih sebagai teknokrat Boediono bisa mendinginkan peserta koalisi yang kebanyakan dari unsur parpol. Terkait dengan itu PKB juga mengajak parpol peserta koalisi, seperti PKS, PPP, dan PAN bersama-sama mendukung pasangan SBY-Boediono.

Keputusan tersebut tidak dipermasalahkan akan melanggar mandat rapat pimpinan nasional yang menginginkan Muhaimin Iskandar jadi cawapres sebagai bagian dari koalisi besar [baca: Muhaimin Iskandar Diusulkan PKB Dampingi SBY].

(IAN/Tim Liputan 6 SCTV) 14 Mei 2009 logoliputan6


The 2009 TIME 100 – Leaders & Revolutionaries – Susilo Bambang Yudhoyono

May 12, 2009

By Anwar Ibrahim
(Ibrahim is currently an opposition leader in Malaysia and the former Deputy Prime Minister)

The changes taking place in Indonesia today are among the most remarkable developments in the Muslim world. The country’s transition from authoritarianism has proved that as a democracy, Indonesia can be culturally vibrant and economically prosperous.

Since winning the presidency in 2004, Susilo Bambang Yudhoyono has managed to keep the nation afloat, even during the current global recession. However, significant challenges lie ahead. Poverty remains pervasive in Indonesia, and the government must press onward with improvements to the country’s ailing infrastructure. Businesses are confronted with a bewildering array of regulations, and the country pays a heavy price in corruption and bribery.

The coming presidential election promises to be good to Yudhoyono, 59, thanks in no small measure to his having for the most part delivered on his promises. The history of Indonesia’s democratic journey may not be that long, but it has thus far shown that the country’s people will not re-elect a President who falls short of expectations.

The time is right for Indonesia, as the world’s most populous Muslim nation, to assume a more prominent position in Asia and throughout the Muslim world. In response to President Obama’s warm overtures to Muslim countries for a new phase in relations with the U.S., Yudhoyono can take the lead and chart a new course for the region.

————————————————————————————
SBY TIMESSource: http://www.time.com/time/specials/packages/article/0,28804,1894410_1893847_1893840,00.html


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.